Guru Asyik

Ngajarnya Asyik Belajar Makin Asyik.

Mentoring Diet Online Mrs.Ticha

Mentoring Diet Berbasis Hypnoteraphy.

SAGUSABLOG (Satu Guru Satu Blog)

Kegiatan yang diprakarsai oleh IKatan Guru Indonesia dalam rangka meningkatkan keterampilan penguasaan teknologi guru berbasis blog.

Senin, 30 Mei 2022

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran


Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran



Filosofi Pratap Triloka dan Pengaruhnya dalam pengambilan keputusan

Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran memiliki kewajiban menuntun para murid mencapai kebahagiaan sebagai pribadi ataupun anggota masyarakat. Setiap keputusan yang diambil guru dalam proses pembelajaran akan menentukan masa depan muridnya.Setiap keputusan tersebut semestinya memprioritaskan kebutuhan murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan. Dalam dunia kependidikan dikenal filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yang meliputi ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani , semboyan ini relevan dipedomani oleh guru dalam menentukan arah keputusannya. Hal ini berarti bahwa keputusan diambil harus dapat menjadi contoh/teladan yang baik bagi murid, memotivasi murid, dan mendorong murid untuk mengoptimalkan potensinya.

Nilai diri dan Prinsip-prinsip dalam Pengambilan Keputusan

Pada dasarnya keputusan seseorang adalah citra dirinya sendiri. Bagaimana seseorang mengambil keputusan sangat bergantung pada nilai-nilai yang tertanam di dalam dirinya, sehingga preferensi prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang diambil pun bisa berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya.

Dalam pengambilan keputusan sendiri terdapat 3 prinsip  dasar, di antaranya:

1.      Rule base Thinking (Berpikir berbasis Peraturan)

2.      End base Thinking (Berpikir berbasis Hasil Akhir)

3.      Care base Thinking. (Berpikir berbasis Rasa Peduli)

Sebagai contoh, guru sendiri yang meyakini bahwa keputusan yang terbaik adalah keputusan yang membawa kebaikan untuk lebih banyak orang, maka prinsip yang mendasarinya adalah end base thinking. Keputusan guru tersebut tentu bisa berbeda dengan guru lain yang taat peraturan dan berprinsip rule based thinking.

Coaching dan Pengukuran Efektivitas Keputusan

Dalam pengambilan keputusan, coaching dari pendamping atau fasilitator dapat membantu mengukur efektivitas pengambilan keputusan. Alur coaching yang menggali potensi coachee dengan komunikasi yang memberdayakan, pertanyaan reflektif, juga umpan balik positif akan menguatkan nilai-nilai kebajikan yang mendasari pengambilan keputusan sekaligus menguatkan kepercayaan dan komitmen terhadap diri. Tidak hanya itu melalui model TIRTA dengan tahapan tujuan umum, identifikasi, rencana aksi, dan tanggung jawab, seorang guru akan mampu mengambil keputusan yang sistematis dengan pola pandang holistik. Penerapan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pun akan dapat dioptimalkan.

Pengaruh Kematangan Sosial Emosional

Ketepatan dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran tidak terlepas dari kematangan sosial emosional seseorang guru. Kompetensi kesadaran diri dapat membuat guru mengenali dan mengendalikan emosi dengan baik, sehingga tetap tenang dalam proses pengambilan keputusan. Pengenalan dan pengendalian emosi ini mendukung kemampuan managemen diri yang tentunya mempermudah guru memposisikan diri sesuai kebutuhan, termasuk sebagai pengambil keputusan. Selain itu keterampilan sosial emosional yang lainnya adalah memiliki kesadaran sosial, dengan keterampilan ini saat memutuskan guru tidak hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri melainkan melihat dari berbagai sisi dengan empati. Terakhir adalah keterampilan berelasi, di mana dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran seorang guru dihadapkan dengan beberapa pihak yang mungkin berbeda kepentingan namun dengan keterampilan ini guru mampu mengambil keputusan yang terbaik dan bisa jadi win win solution. Akhirnya kematangan sosial emosional akan dapat melahirkan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Studi Kasus Moral atau Etika

Menjalankan tugas sebagai pemimpin pembelajaran menghadapkan guru pada berbagai kasus baik bujukan moral atau pun dilema etika. Melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian kasus-kasus tersebut guru dapat mengambil keputusan bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya bahwa keputusan adalah citra diri yang menggambarkan paradigma berpikir, prinsip pengambilan keputusan, bahkan kematangan sosial emosional dari guru.

Sebagai seorang pendidik, setiap langkah harus berpedoman pada nilai-nilai kebaikan dengan menginternalisasi pratap triloka Ki Hajar Dewantara (ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani). Hal tersebut berarti pengambilan keputusan pun selaras dengan nilai kebaikan dan pratap triloka Ki Hajar Dewantara tersebut.

Tidak hanya itu, sebagai pemimpin pembelajaran yang bertugas menuntun laku para murid maka keberpihakan pada murid juga menjadi nilai penting yang harus ada dalam pertimbangan pengambilan keputusan seorang guru.

Keputusan Tepat, Ekosistem well-being

Ekosistem well-being dalam dunia pendidikan mengisyaratkan perwujudan kemerdekaan belajar bagi murid dan terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Ekosistem semacam ini akan dapat direalisasikan apabila guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat mengambil keputusan yang tepat, yakni keputusan yang berpihak pada murid, menginternalisasi filosofi Ki Hajar Dewantara, berpedoman pada nilai-nilai kebajikan universal dan berkelanjutan. Berkelanjutan artinya memberi peluang pada berkembangnya budaya positif di sekolah, serta memberdayakan warga sekolah untuk mengoptimalkan potensi yang mereka dan atau sekolah miliki.

Tantangan dalam  Pengambilan Keputusan

Mengambil keputusan yang memuaskan semua pihak bukan hal yang mudah, perbedaan pola pandang dan prinsip menjadi dasar kepentingan yang berbeda antar pihak. Ada kalanya keputusan yang berpihak pada murid dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care Base Thinking) bertentangan dengan guru-guru yang memiliki prinsip (Rule Base Thinking) dan menomor satukan peraturan. Tidak ada yang salah, karena pada kasus dilema etika keduanya berpegang pada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Untuk itu kematangan sosial emosional yang dapat menjadi solusinya. Sebagai individu yang memiliki kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, kemampuan berelasi, dan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab, guru akan mampu melihat secara holistik (menyeluruh) dan menerapkan kesembilan langkah yang ada, -eradaptasi dan berstrategi untuk menemukan win win solution untuk kebaikan bersama.

Kemerdekaan Belajar Murid

Keputusan yang telah diambil dengan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, berpedoman pada paradigma benar lawan benar, dengan salah satu dari 3 prinsip pengambilan keputusan merupakan keputusan bertanggung jawab yang menjiwai pratap triloka Ki Hajar Dewantara. Dengan keputusan yang berpihak pada murid, dapat memberi teladan, motivasi dan dorongan dari belakang adalah modal penting bagi seorang murid mencapai kemerdekaan belajar. Pasalnya melalui keputusan ini tercipta ekosistem well being yang akan mendorong tumbuhnya budaya positif dan mewujudkan kemerdekaan belajar.

Masa Depan Murid

Keputusan yang tepat dan efektif akan mengantarkan kebahagiaan dan keselamatan pada murid-murid. Hal ini selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu berarti menuntun laku mereka menemukan kebahagian. Upaya ini pun dapat dioptimalkan lantaran ekosistem yang terbina dari keputusan tersebut yaitu ekosistem well being yang berbudaya positif. Oleh karena keputusan merupakan citra diri sesorang, maka sebagai seorang  pemimpin pembelajaran guru selayaknya menginternalisasi filosofi pratap triloka, berpihak pada murid dan matang secara sosial emosional.

Kesimpulan

Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan tanggung jawab besar seorang guru karena turut menentukan masa depan murid. Ketepatan dan keefektifan dari keputusan harus selalu diupayakan agar terwujud kemerdekaan belajar murid. Keterampilan ini harus terus diasah dengan selalu berpedoman pada nilai-nilai kebaikan, selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, dan berpihak pada murid. Untuk dapat mengoptimalkan tugas ini seorang guru harus memiliki kematangan sosial emosional. Langkah strategis yang dapat dilakukan yaitu dengan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan.

Selasa, 22 Maret 2022

Break Event Point / Titik Balik Modal dalam Usaha Kuliner

 Break Event Point / Titik Balik Modal


Untuk dapat menjalankan usaha kuliner dengan sukses, seorang pengusaha dituntut memiliki kemampuan manajerial keuangan, diantaranya kemampuan dasar untuk menghitung Break Event Point, 

Apa itu Break Event Point?

Break Event Point (BEP) adalah titik balik modal atau titik impas dimana seorang pengusaha tidak mengalami kerugian atau mendapat keuntungan. Perhitungan BEP penting untuk dapat mengukur kemajuan usaha, baik menghitung harga minimal, harga rekomendasi, jumlah produksi yang harus terjual, juga menentukan kondisi usaha dalam keadaan untung atau rugi.

Secara umum terdapat dua macam BEP, yakni:

  1. BEP Produksi
  2. BEP Penjualan
BEP Produksi berguna untuk mengetahui jumlah minimal produk yang harus terjual agar balik modal dengan menggunakan harga satuan pasar. Harga satuan pasar artinya harga satuan yang berlaku di pasar. Sedangkan 

BEP Penjualan berfungsi menghitung harga minimal yang bisa diterapkan untuk balik modal dengan menjual keseluruhan produk yang diproduksi.

Untuk menghitung BEP kita terlebih dahulu harus mengenal beberapa istilah, sebagai berikut
  • biaya operasional
  • biaya tetap
  • biaya variabel
Biaya operasional dalam bisnis kuliner adalah biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk makanan. Untuk menghitung biaya operasional, kita dapat menjumlahkan biaya tetap dengan biaya variabelnya.

Biaya tetap atau mixed cost dalam laman ocbcnicp.com berarti pengeluaran yang tidak berubah-ubah meskipun terjadi penurunan atau peningkatan penjualan. Biaya tetap meliputi biaya sewa gedung, asuransi, pajak, penyusutan dan tagihan air juga listrik.
Biaya variabel adalah biaya dengan jumlah berubah-ubah mengikuti intensitas pemakaian sumber biaya atau jumlah produknya. Biaya variabel meliputi biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, biaya distribusi produk, dan komisi penjualan. 

Nah, untuk berlatih menghitung BEP kita akan menerapkan prinsip sederhana terkait dengan biaya biaya tersebut. Mari simulasikan dalam usaha jualan Brownies Kukus sebagai berikut!

Dalam usaha kuliner pengusaha membutuhkan modal peralatan dan atau tempat yang digunakan untuk produksi. Misalnya pada usaha Brownies kukus Ibu Amena dibutuhkan peralatan antara lain:
  • Tabung Gas
  • Kompor Gas
  • Kukusan
  • Mixer
  • Loyang
  • Baskom
  • Spatula
Semua biaya yang dikeluarkan untuk membeli peralatan tersebut tidak dibebankan langsung pada satu kali produksi karena peralatan tersebut masih dapat digunakan pada produksi berikutnya, sehingga yang dihitung hanya penyusutan. Besar prosentase penyusutan tergantung pada jangka penggunaan alat itu sendiri. Namun untuk mempermudah, kita menggunakan prosentase umum penyusutan yakni 10% dari biaya pembelian peralatan. 

Misal Ibu Amena menghabiskan Rp 2.000.000,00 untuk pembelian peralatan maka biaya penyusutannya adalah 10% dari 2.000.000,00 yaitu sebesar Rp 200.000,00.

Biaya penyusutan ini menjadi komponen dari biaya tetap dalam usaha kuliner, jika ibu Amena memperkerjakan orang maka upah dari karyawannya juga termasuk, begitu juga dengan sewa gedung dan atau pajak bumi bangunannya.

Selanjutnya kita akan membahas tentang biaya variabel, 
Perhatikan resep baku Brownies Kukus Ibu Amena berikut!
  • 60 gram tepung terigu 
  • 40 gram cokelat bubuk (bisa pakai minuman cokelat saset) 
  • 3 butir telur 
  • 1/2 sdm garam 
  • 100 gram gula pasir 
  • 50 ml minyak goreng 
  • 1 sdm minyak untuk olesan
Untuk menghasilkan 5 loyang brownies dengan bahan seperti disebut di atas Ibu Ameena menghabiskan uang Rp 100.000,00 untuk membeli bahan-bahan tersebut, maka biaya itulah yang dimaksud dengan biaya variabel. Biaya yang dapat berubah-ubah sesuai dengan jumlah produk yang dihasilkan. Misal untuk memprodduksi 50 loyang tentu tidak mungkin hanya dikeluarkan Rp 100.000,00 melainkan Rp 1.000.000,00.

Mudah bukan memahami biaya tetap dan biaya variabel!
Bagaimana kaitannya dengan BEP?

Biaya operasional = biaya tetap + biaya variabel
BEP Produksi = biaya operasional / harga satuan pasar
BEP Penjualan =  biaya operasional / jumlah produk

Maka jika dalam menjalankan bisnis browniesnya Ibu Ameena mengeluarkan Rp 2.000.000 untuk modal alatnya dan menghabiskan Rp 3.000.000 untuk menghasilkan 150 loyang brownies, berapakah 
  1. BEP Produksi, jika harga brownies di pasar 40.000/loyang?
  2. BEP Penjualan?
Penyelesaian:
Diketahui:
Biaya Beli alat/investasi = 2.000.000
Biaya Variabel = 3.000.000
Jumlah loyang =  150 loyang
Harga pasar =  40.000/loyang
maka 
  1. hitung terlebih dahulu penyusutannya = 10% x 2.000.000 = 200.000
  2. kemudian hitung biaya produksi = biaya tetap + biaya variabel = biaya penyusutan + biaya variabel = 200.000 + 3.000.000 = 3.200.000
  3. BEP produksi = 3.200.000/40.000 = 80 , jadi untuk balik modal ibu Ameena harus menjual 80 loyang dengan harga Rp 40.000,-
  4. BEP penjualan = 3.200.000/150 = 21.333. jadi untuk balik modal ibu Ameena minimal menghargai brownisnya Rp 21.400. 00.
Berdasarkan BEP penjualan (harga minimal), dapat dihitung harga rekomendasinya yaitu 150 % x harga BEP Penjualan = 150 % x 21.400 = Rp 32.100,-
Jadi sebaiknya ibu Amena menjual dengan harga Rp 32.000/loyang Brownies Kukus.

Catatan :
Apabila kamu baru menekuni bidang kuliner dan kamu memperoduksi sejumlah kecil saja, maka kamu tidak perlu memasukan penyusutannya terlebih dahulu karena dapat meningkatkan harga jual menjadi tak lazim.

Menurut kamu apakah ibu Amena untung?rugi? jelaskan jawabanmu!

Sabtu, 26 Februari 2022

Mengenal Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pengaplikasiannya di Sekolah

 

Mengenal Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pengaplikasiannya di Sekolah

oleh Suasticha Mahardika, S.Pd.Si
CGP Angkatan IV Kabupaten Cilacap

 


Adil tak berarti serupa dan sama rata, kiasan yang menurut saya tepat untuk menggambarkan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran sebagai aktivitas inti pendidikan sudah selayaknya melayani kebutuhan murid sebagai personal dengan harapan terwujudnya ekosistem well-being bagi mereka. Ekosistem yang pada akhirnya mampu mengoptimalkan pencapaian kompetensi sekaligus karakter baik dalam dirinya.

Pembelajaran berdiferensiasi berarti pemenuhan kebutuhan belajar murid sebagai bentuk respons guru terhadap kebutuhan murid itu sendiri. Ki Hajar Dewantara menyampaikan guru ibarat petani yang merawat tumbuhnya benih. Seorang petani tentu harus memperlakukan benih-benih ini sesuai kebutuhannya agar dapat tumbuh subur, maka seperti itulah seorang guru harus tahu persis kebutuhan muridnya agar mereka selamat dan berbahagia baik sebagai pribadi atau anggota masyarakat.

Pembelajaran berdiferensiasi berisi keputusan-keputusan logis (common sense) yang dibuat guru berdasarkan hasil penggalian  terhadap murid. Dasarnya adalah bahwa murid bukan tabula rasa, mereka bukan kertas yang kosong. Oleh karena itu guru perlu memahami apa yang sudah tertulis dan menjadi bagian dari muridnya. Apa saja yang digali? Secara umum kebutuhan murid yang digali  berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan profil belajarnya.

Kesiapan belajar yang dimaksud adalah kapasitas murid mempelajari materi baru. Guru harus mampu menyesuaikan pembelajaran kemudian mengambil keputusan logis, salah satunya dengan menggunakan analogi “equalizer” yang dikenalkan oleh Tom Linson. Melalui tes diagnostik pra pembelajaran atau di awal pembelajaran, guru dapat merencanakan strategi yang sesuai dengan kebutuhan muridnya, misalnya apakah kemudian murid masih membutuhkan informasi dasar dengan info pendukung yang jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk menguasai materi atau sudah mampu menerima info yang lebih rinci dan membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya melalui bahan dan tugas yang transformatif. Secara teknis penggalian kesiapan belajar dapat dilakukan dengan memberikan kuis, tanya jawab, observasi, atau dengan melihat laporan hasil belajar sebelumnya. Terlayaninya murid sesuai kesiapan belajarnya akan mengefisienkan proses pembelajaran sehingga murid tidak tertekan dan bisa berkembang menjadi lebih baik.

Selain kesiapan belajar kebutuhan murid yang juga harus diperhatikan adalah minat. Mengolaborasikan pembelajaran dengan minat yang mereka miliki akan lebih menarik perhatiannya. Dengan perhatian penuh seorang murid dapat meningkatkan kinerjanya. Minat siswa dapat digali dari kesehariannya, atau dari obrolan santai di sela pembelajaran. Data minat juga dapat ditarik dari info dasar seperti hobi dan cita-cita.

Kebutuhan murid yang perlu diperhatikan berikutnya adalah profil belajarnya, yaitu mengacu pada cara belajar terbaik yang mereka miliki, meliputi preferensi lingkungan belajar, kebiasaan/pengaruh budaya, termasuk preferensi gaya belajar (visual, auditory, kinestetik). Hal tersebut berarti guru harus memvariasikan metode dan pendekatan mengajarnya.

Berdasarkan uraian di atas, seorang guru harus melakukan penilaian diagnostik dahulu untuk mendapatkan data kebutuhan dari murid, lalu sebagai pemimpin pembelajaran merespons keberagaman kebutuhan ini dengan menyelenggarakan pembelajaran berdiferensiasi. Adapun dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi memiliki tiga strategi, antara lain diferensiasi konten, diferensiasi produk, diferensiasi produk.

Dengan mengacu pada ketiga kebutuhan murid guru dapat mendiferensiasikan konten dengan menyediakan konten yang bervariasi. Gambarannya sebagai berikut:

1.       Berdasarkan kesiapan belajar, misalnya untuk dua kelompok belajar di mana satu kelompok yang belum bisa mengabstraksi maka disiapkan konten yang konkret, sedangkan untuk kelompok yang sudah mampu berarti langsung menggunakan konten yang abstrak. Bayangkan pada pembelajaran biologi tentang organel dalam sel, sekelompok anak membutuhkan model sel untuk memahami bahwa sel ini bervolume dan berisi organel-organel, sedang sebagian murid lainnya hanya butuh penjelasan tertulis saja.

2.       Berdasarkan minat, misalnya saat belajar materi perubahan lingkungan, sekelompok siswa memiliki minat terhadap kendaraan bermotor, sekelompok yang lain pada pabrik, ada juga yang berminat pada peristiwa alam, maka guru dapat menyiapkan konten perubahan lingkungan yang berkaitan dengan motor, pabrik, juga peristiwa alam, sebagai bahan belajar murid.

3.       Berdasar Profil belajar, misalnya saat belajar materi animalia, siswa yang bergaya belajar auditory dapat disiapkan bahan belajar berupa voice note, siswa dengan gaya belajar visual bisa dengan bahan belajar berupa gambar, dan untuk yang kinestetik disiapkan sudut-sudut literasi untuknya bergerak mendapatkan bahan.

Pada proses pembelajaran juga dapat dideferensiasi berdasarkan kesiapan belajar dengan menerapkan scaffolding yakni dengan memetakan jumlah bantuan yang dibutuhkan murid dan memberikan bantuan yang jumlah bantuan berbeda sesuai dengan kebutuhan, berdasarkan minat misalnya dengan mengizinkan mereka menggunakan model ekspresi yang mereka minati saat belajar  apakah lisan, tertulis atau rancang bangun. Dapat pula disesuaikan dengan gaya belajarnya yaitu mengamati gambar untuk visual, mendengar voice note untuk yang auditory, atau praktek langsung untuk yang kinestetik.

Tidak hanya pada konten dan proses, produk juga dapat divariasikan sesuai dengan kebutuhan di atas.  Misalnya dalam Pengamatan Tumbuhan di Lapangan Sekolah, laporan hasil pengamatan dapat disusun dalam bentuk artikel bergambar, voice note, atau video penjelasan tergantung pada gaya belajar masing-masing. Seorang guru tidak harus menerapkan ketiga strategi ini dalam satu waktu pembelajaran. Strategi yang digunakan cukup disesuaikan dengan kebutuhan.

Apabila dilihat secara menyeluruh, pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang menjiwai pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang berpihak pada murid. Mempersiapkan konten, proses, dan produk yang sesuai dengan potensi masing-masing menggambarkan guru menyadari bahwa mereka bukan tabula rasa. Masing-masing memiliki karakter unik. Diferensiasi menempatkan mereka sebagai subyek pembelajar pada level yang sesuai.. Guru menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran sekaligus posisi kontrol manager. Dengan demikian guru menumbuhkan motivasi intrinsik sebagai dasar perilaku seorang murid, menumbuhkan budaya positif terutama tentang saling menghargai, juga mengapresiasi setiap pertumbuhan dan perkembangan dari setiap murid.

 

 

Rabu, 09 Februari 2022

Membangun Budaya Positif di Sekolah melalui Keyakinan kelas, Jurnal Belajar, Restitusi dan Kelas Praktisi

Membangun Budaya Positif di Sekolah melalui Keyakinan kelas, Jurnal Belajar, Restitusi dan Kelas Praktisi



Di susun oleh

Suasticha Mahardika, S.Pd.Si.

(CGP Angkatan IV Kabupaten Cilacap)

Murid-murid kita adalah masa depan bangsa. Kelak merekalah yang akan menjadi para pemimpin dan membangun Indonesia. Seyogyanya mereka bertumbuh menjadi pribadi-pribadi beradab dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tertanam kuat. Generasi penerus dengan Profil Pelajar Pancasila yang memenuhi enam ciri utama, sebagai berikut:

  1. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia
  2. Berkebhinekaan global
  3. Bergotong royong
  4. Mandiri
  5. Bernalar kritis
  6. Kreatif

Kunci untuk dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila adalah pendidikan. Pendidikan yang sesuai dengan pola pandang/pemikiran Ki Hajar Dewantara, yakni pendidikan yang menuntun segala kodrat pada anak-anak sehingga mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan baik sebagai pribadi ataupun sebagai anggota masyarakat.

Berdasarkan pola pembentukan karakter baik, yaitu pola perilaku yang tumbuh dari nilai-nilai keyakinan seseorang, maka seorang pendidik perlu menyadari bahwa sebagai bagian dari sekolah pendidik memiliki akses untuk mengoptimalkan pembentukan karakter baik dalam rangka perwujudan profil pelajar Pancasila ini, baik melalui keteladan atau pun pembiasaan. Namun lebih dari itu, sebuah kondisi yang nyaman dan aman harus diciptakan sebagai ekosistem yang baik bagi tumbuhnya karakter tersebut.

Ekosistem yang dimaksud adalah ekosistem positif dalam bentuk budaya positif. Budaya positif yang dimaksud yaitu keadaan yang mendukung tumbuh dan melekatnya karakter-karakter baik pada diri murid hingga mencapai profil pelajar Pancasila.

Dalam rangka membangun budaya positif di sekolah, penulis melakukan beberapa aksi nyata sebagai berikut:

Menyepakati Keyakinan Kelas

 

Dasar pemikiran dari aksi nyata “Menyepakati Keyakinan Kelas” adalah bahwa setiap perilaku selalu memiliki motif di belakangnya. Motif ini dapat kita sebut sebagai motivasi dan macamnya ada tiga, antara lain motivasi eksternal menghindari hukuman, motivasi eksternal mengharapkan pujian/hadiah dan motivasi internal. Sebuah perilaku akan melekat pada diri seseorang apabila didasari oleh motivasi internal. Motivasi ini tumbuh dari nilai-nilai yang diyakini, sehingga akan dipegang teguh dan tidak mudah goyah. Salah satu upaya menghadirkan motivasi internal adalah dengan menyepakati keyakinan kelas bersama-sama. Ada berbagai cara untuk melakukannya, diantaranya sebagai berikut:

a.       Brainstorming dengan variabel-variabel yang ada di kelas baik secara online maupun secara offline. Cara ini dimulai dari guru memantik partisipasi murid untuk menyusun keyakinan kelas menggunakan kata kunci, seperti :

Kelas Biologi yang saya harapkan:

Siswanya .....

Kegiatan Pembelajarannya ....

Tugasnya .....

Gurunya .....

Jika kegiatan pembelajaran masih dilakukan secara daring / pembelajaran jarak jauh maka bisa memanfaatkan grup WA sebagai sarana.

Gambar Screen shoot WA hasil keyakinan kelas X MIPA 4 Mapel Biologi

b.       Tabel T (Tampak Seperti/Tidak Tampak Seperti) juga dapat menjadi alternatif yang mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh murid. Diawali dengan menentukan nilai apa yang mereka yakini ( nilai yang dibutuhkan dalam pembelajaran) lalu dikembangkan menjadi poin-poin yang menggambarkannya juga yang sebaliknya.







Upaya ini dapat menghadirkan kesadaran akan diri secara utuh, sehingga murid mampu menghargai dirinya sendiri dan mencapai kemerdekaan belajar. Mengenalkan mereka dan menanamkan nilai-nilai kebajikan universal bagian dari diri mereka sendiri.

Membuat Jurnal Belajar 

Usaha perwujudan karakter baik diperkuat dengan pembiasaan pembuatan jurnal belajar Jurnal belajar yang dibuat merupakan kegiatan reflektif yang merekam kebermaknaan belajar dengan harapan murid dapat memetik hikmah dari setiap kegiatan belajar yang dilaksanakan terlepas dari materi yang diajarkan dan bergerak untuk memaknai proses.

Dalam jurnal belajar dicantumkan pula hal positif yang mereka dapatkan dengan harapan mereka terbiasa melihat sisi positif dari setiap kegiatan dan dapat mengoptimalkan potensi dengan berfokus pada kelebihannya.

Tidak hanya itu, jurnal belajar juga merekam perasaan yang mereka rasakan pada proses tersebut. Hal ini diasumsikan sebagai upaya melibatkan emosi dalam belajar untuk menjadikannya momen berkesan/bermakna yang menjadi ingatan jangka panjang.

Setelah siswa mengumpulkan jurnal belajar, guru memberikan feedback yang memotivasi dan membangun, serta memberi masukan yang dapat mendukung pengembangan potensi diri dari murid.


Restitusi

Di awal-awal penerapan sangat mungkin terjadi pelanggaran terhadap keyakinan kelas. Hal ini dapat ditangani dengan melaksanakan restitusi, yaitu sebuah upaya introspeksi diri. Introspeksi dilakukan murid yang bersalah dengan didampingi pendidik. Posisi pendidik bukan sebagai penghukum namun sebagai manajer yang membantu murid menemukan solusi untuk memperbaiki dirinya.

Kegiatan restitusi meliputi tiga tahapan, sebagai berikut:

1.       Menstabilkan identitas

2.       Memvalidasi kesalahan

3.       Menanyakan keyakinan

Restitusi bukan paksaan melainkan tawaran. Upaya ini tidak membuat murid menjadi terpuruk melainkan semakin kuat karakternya sehingga dapat kembali ke kelompoknya. Kesalahan yang mereka perbuat menjadi sarana mereka belajar dan menemukan nilai-nilai keyakinan yang semakin kuat mereka pegang. Upaya ini turut mendukung keharmonisan antara pendidik dengan muridnya. Pasalnya murid tidak kehilangan harga diri di hadapan pendidiknya.

Berikut ini adalah contoh upaya restitusi yang telah dilakukan penulis:






Karena pelanggaran terhadap keyakinan kelas ini melibatkan satu kelas, maka penulis berinisiatif menggunakan google form sebagai media restitusi.

Menstabilkan Identitas

Pada identitas form dituliskan pernyataan yang menstabilkan identitas.

Validasi kesalahan


Jawaban siswa:

Pertanyaan berikutnya:


Jawaban Siswa


Menanyakan keyakinan kelas

Jawaban siswa


 Dengan demikian murid belajar dari kesalahannya, dan memiliki motivasi untuk memperbaikinya.

Menyelenggarakan Kelas Praktisi

Selain menanamkan nilai atau karakter baik sebagai upaya membangun budaya positif, penulis juga berkolaborasi dengan rekan calon guru penggerak dan rekan sejawat  dari sekolah tempat penulis bertugas dengan tujuan untuk menginisiasi terselenggaranya kelas praktisi.


Dasar pemikiran dari penulis adalah bahwa murid perlu untuk membuka diri dan wawasan belajar langsung dari ahli. Pada kesempatan ini penulis berkolaborasi dengan alumnus yang berprofesi sebagai psikolog dan bekerja di kantor pemerintahan Dinas Perlindungan Anak, yaitu :

a.       Indra Bayu Permana, M.Psi.

b.       Endah Setyarini, S.STP.,M.Psi.


Adapun permasalahan yang diangkat adalah permasalahan remaja di sekitar, pada kesempatan tersebut murid mendapatkan paparan dari ahli, mendapat berbagai tips mengatasi permasalahan, bahkan berdiskusi aktif dengan para pembicara. Dengan demikian mereka membangun profil bernalar kritis terhadap permasalahan di sekitar.











Demikian yang dapat penulis bagikan dengan rekan-rekan sesama pendidik, mohon masukan dengan menuliskan komentar pada postingan ini. Terima kasih. Salam Guru Penggerak!

Berikut adalah file lengkap Sosialisasi Aksi Nyata yang telah dilaksanakan penulis:

Semoga Bermanfaat!


Rabu, 17 November 2021

Konsep Diri Seorang Guru Penggerak

Guru Penggerak, mungkin sebutan ini belum terlalu familiar terdengar oleh masyarakat, namun program yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan ini telah memasuki angkatan yang ke-4 dengan fakta meningkatnya animo peserta yang mengajukan diri untuk mengikuti keseluruhan program, lalu sosok seperti apakah Guru Penggerak? Mari kita ulas bersama.

Kamis, 14 Oktober 2021, Dr.Iwan Syahril,Ph.D. selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dalam virtual meeting Pembukaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 telah menyampaikan bahwa program guru penggerak merupakan program untuk menjadikan paradigma baru dalam kepemimpinan pendidikan Indonesia. Lebih lanjut beliau menyebutkan empat paradigma sebagai berikut:

  1. Paradigma berpusat pada peserta didik
  2. Paradigma mendorong pendidikan yang holistik
  3. Guru Penggerak menjadi Coach bagi guru lain
  4. Guru Penggerak menjadi Teladan dan menjadi agen perubahan

Arahan beliau diperkuat dengan pernyataan Mas Menteri (Nadim Anwar Makarim) yang mengungkapkan tujuan dari pendidikan guru penggerak adalah memberi bekal kepemimpinan dalam pembelajaran dan pedagogi kepada guru. Sosok guru penggerak saat itu digambarkan Mas Menteri sebagai Duta Merdeka Belajar yang memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. Menggerakkan komunitas belajar
  2. Memprioritaskan pemenuhan kebutuhan peserta didik
  3. Melakukan praktik baik dalam pembelajaran
  4. Berkolaborasi membangun komunitas

Berdasarkan pernyataan kedua tokoh tersebut dapat kita simpulkan sedang terjadi transformasi pendidikan di Indonesia, revolusi pendidikan yang mengembalikan pendidikan pada filosofi Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, dengan guru penggerak sebagai agen transformasinya. Oleh karena itu sangat penting bagi guru memahami konsep diri dari guru penggerak. Konsep diri ini terkait dengan peran dan nilai yang harus dimilikinya dalam menjalankan amanah sebagai agen perubahan paradigma pendidikan di Indonesia.

Tujuan pendidikan sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3  yaitu pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “ beriman dan bertawa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tujuan tersebut memunculkan sebuah penunjuk arah yang konsisten untuk pendidikan di Indonesia berupa Profil Pelajar Pancasila, profil pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila yang dicitrakan melalui enam dimensi sebagai berikut:

1.       Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia

2.       Mandiri

3.       Bergotong-royong

4.       Berkebhinekaan global

5.       Bernalar kritis

6.       Kreatif

      Profil Pelajar Pancasila merupakan karakter baik yang harus ditumbuhkan di lingkungan pendidikan oleh guru karena guru memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan penumbuhan karakter ini melalui pembiasaan dan keteladanan. Sosok guru penggerak harus memahami dan menyadari kondisi ini sehingga konsep diri yang harus dimilikinya secara utuh meliputi peran dan nilai berikut:

  1. Peran guru penggerak

1.       Menjadi pemimpin pembelajaran

2.       Menggerakan komunitas praktisi

3.       Menjadi coach bagi guru lain

4.       Mendorong kolaborasi antar guru

5.       Mewujudkan kepemimpinan Murid

  1. Nilai guru penggerak

1.       Mandiri

2.       Reflektif

3.       Inovatif

4.       Kolaboratif

5.       Berpihak pada murid

      Masing-masing peran dan nilai merupakan kesatuan yang utuh dan dikembangkan secara bersamaan untuk dapat menuntun peserta didik mencapai kebahagiaan sebagai pribadi atau pun sebagai anggota masyarakat sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.

Untuk dapat mewujudkannya sosok guru penggerak seorang guru dapat melakukan beberapa strategi berikut:

  1. Menerapkan alur MERDEKA belajar dalam mengembangkan dirinya. Alur merdeka belajar ini meliputi mulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi, refleksi terbimbing, demonstrasi kontekstual, elaborasi pemahaman, koneksi antar materi, aksi nyata.
  2. Menggali dan menginventaris kebutuhan dari peserta didik yang dilayaninya
  3. Membangun kedekatan atau bonding dengan peserta didik
  4. Membangun kolaborasi dengan rekan sejawat dan orang tua peserta didik
  5. Membiasakan komunikasi dua arah dengan peserta didik
  6. Aktif mengembangkan kompetensi TIK dan berwawasan global
  7. Menerapkan alur merdeka belajar dalam pembelajaran peserta didik
  Penumbuhan karakter baik pada peserta didik tidak dapat dibangun sendiri oleh guru karena lingkungan hidup dari peserta didik tidak hanya di sekolah. Peserta didik memiliki alam keluarga yang berpengaruh besar dalam pembentukan karakter, sehingga guru penggerak sangat membutuhkan dukungan dari orang tua dalam upaya menumbuhkan karakter baik. Salah satunya dengan membangun komunikasi aktif dengan orang tua terkait perkembangan dan kendala-kendala yang dialami peserta didik di sekolah melalui grup what app atau home visit.  Selain itu lingkungan sekolah pun semestinya nyaman dan aman untuk belajar, guru penggerak sangat membutuhkan dukungan dari seluruh warga sekolah baik guru lain atau tenaga pendidikan untuk mewujudkan lingkungan aman dan nyaman tersebut. Tidak hanya itu menghadirkan tokoh masyarakat yang inspiratif juga dapat mendorong terwujudnya karakter baik peserta didik. Dengan demikian untuk mewujudkan sosok guru penggerak perlu kolaborasi antara orang-orang dalam tri pusat pendidikan , yang meliputi orang tua (keluarga), warga sekolah, dan masyarakat. 

Minggu, 05 September 2021

Sistem Administrasi Usaha



Pengantar Sistem Administrasi Usaha

Setiap usaha tentunya memiliki sistem tata kelola, ini yang kemudian di maksud dengan sistem administrasi. Menurut Prof. Dr. S prajudi atmosudirjo (dalam laman http://man4bantul.sch.id/) administrasi adalah proses dan tata kerja yang terdapat pada setiap usaha, apakah usaha kenegaraan atau swasta, usaha sipil atau militer, usaha besar atau kecil.
Dengan demikian sistem administrasi berarti gambaran bagaimana sebuah usaha dijalankan mulai dari perencanaan hingga evaluasi, termasuk surat menyurat, pencatatan transaksi, teknis produksi, bahkan pelaporan keuangan.

Tujuan Administrasi Usaha

Adapun tujuan dari sistem administrasi usaha antara lain adalah agar pemilik perusahaan (wirausaha)
  1. dapat memonitor kegiatan dan pengendalian usaha.
  2. dapat mengamankan jalannya pelaksanaan kegiatan usaha.
  3. dapat mengevaluasi kegiatan-kegiatan usaha.
  4. dapat menyusun program pengembangan kegiatan usaha.
  5. dapat menunjukkan adanya bukti-bukti kegiatan usaha.
  6. dapat mengambil keputusan dalam pengembangan dan pengendalian usaha.

Kegiatan Administrasi Usaha

Kegiatan dalam sistem administrasi usaha meliputi :
  1. Melakukan kegiatan surat menyurat
  2. Melakukan kegiatan perjanjian dagang 
  3. Melakukan kegiatan untuk melakukan pemesanan dan pengiriman produk . 
  4. Melakukan pemasaran produk 
  5. Melakukan pembekalan maupun persediaan dengan melakukan perencanaan yang tepat agar tidak kekurangan barang maupun kebanyakan barang, 
  6. Melakukan pencatatan administrasi kepegawaian
  7. Melakukan proses produksi 
  8. Melakukan proses inventory 

Rabu, 21 April 2021

Strategi Pemasaran Produk Makanan


Peluang usaha kuliner selalu menjanjikan, karena kebutuhan akan pangan selalu ada. Namun demikian tidak semua pengusaha kuliner dapat meraih kesuksesan usaha. Hal ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana si pengusaha memasarkan produknya. Berikut ini adalah strategi pemasasaran produk makanan yang Mrs.Ticha rangkum dari channel Belajar Bisnis:

1. menyediakan versi kecil dari produk makanan



Porsi-porsi kecil ini digunakan untuk tester yang ditawarkan pada orang-orang yang lewat, sehingga pengusaha dapat mengedukasi konsumen bagaimana cita rasa dari produknya. Dengan menyajikan mini produk alias versi kecilnya biaya pemasaran dapat dihemat. Yang perlu diperhatikan adalah penyajian dari mini produk ini sangat bergantung pada jenis makanannya, kalau makanannya kering maka potong kecil-kecil lalu beri tusuk gigi, sedangkan jika makanannya berkuah bisa disajikan di mangkuk-mangkuk plastik kecil yang diberi sendok kecil. 

2. memanfaatkan aroma masakan yang kuat

Aroma makanan yang lezat akan  dapat mengundang pelanggan datang ke tempat makan anda. Nah, untuk strategi ini digunakan tentu untuk pemasaran secara langsung atau offline ya.


3. memperlihatkan keunikan teknik

Selain dengan menggunakan tester, kemudian aroma lezat makanan, memperlihatkan keunikan teknik memasak juga menjadi penarik yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan pemasaran secara langsung atau di tempat berjualan.

4. dapatkan review dan berikan bonus

Strategi selanjutnya dapat dilakukan baik untuk usaha kuliner secara offline atau pun online. Yakni dengan meminta review dari pelanggan baik dalam bentuk foto, rekaman video, atau mungkin chat wa. Sebagai penyemangat, dapat juga menawarkan bonus bagi reviewer misal seperti diskon atau menu tambahan gratis.

5. instagramable



Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini instagram menjadi salah satu media sosial yang dimiliki hampir oleh seluruh kalangan. Menyuguhkan produk  yang instagramable tentu akan sangat mendukung pemasarannya, baik dalam bentuk foto ataupun video. 

Misalnya produknya tidak terlalu istimewa maka yang dibuat instagramable adalah tempat usahanya, karena saat ini kebutuhan akan selfie di kalangan muda cukup tinggi, selain kebutuhan tempat nyaman baik untuk kerja atau pun sekedar nongkrong bersama teman-teman.

6. buat kontes

Kontes berhadiah juga dapat digunakan untuk menarik konsumen, misalnya dengan mengadakan photo contest kemudian dikolaborasi dengan media instagram di mana konsumen diminta untuk swafoto dengan produk lalu diupload di instagram, lalu diberi caption yang menarik. Postingan tersebut kemudian bisa di repost kembali dengan akun official produk. Hadiahnya bisa uang atau souvenir.

7. menggunakan media sosial lainnya

Penggunaan media sosial dapat dimaksimalkan, misalnya dengan menggunakan facebook kemudian bergabung di grup-grup yang berkaitan dengan produk, misal grup masak-masak, bisa juga grup jualan wilayah setempat. Jika memiliki cukup budget untuk pemasaran dapat membuat fans page khusus produk.

8. kerja sama dengan layanan pengiriman

Sebagai contoh kerja sama dengan gofood, maka makin banyak orang yang dapat mengetahui produk yang dijual. Jangkauan meluas, pun dapat memanfaatkan promo-promo yang diselenggarakan oleh penyedia layanan tersebut.

9. melakukan endorsmen

Influencer memang nyatanya memiliki pengaruh yang besar dalam pemasaran produk melalui followernya. Bisa dengan mengirimkan produk gratis ke mereka atau mengundang mereka ke tempat usaha. Lalu minta mereka untuk mereview produknya. Tidak hanya instagram tapi bisa juga menggaet youtuber-youtuber yang spesial kuliner. Kompensasi yang diberikan bisa saja hanya berupa makanan gratis, namun bisa juga berupa bayaran jasa.

Nah bagaimana, sudah tergambar cara strategi promosi yang mau Kalian lakukan untuk meningkatkan pemasaran produk makanannya?

Terlepas dari sembilan strategi yang diuraikan di atas, kunci dari kesuksesan usaha kuliner pastinya adalah rasa yang enak lezat juga produk yang unik. Meskipun enak itu relatif, jika banyak yang merasa enak itu sudah cukup mencitrakan bahwa makanan yang dijual itu enak.